spacer.png, 0 kB
Home arrow Index Berita arrow Opini arrow KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI
Main Menu
Home
Etalase
Moloku Kie Raha
Majangpolis
Ragam
Opini
Ekonomi
Internasional
Polmas
Hiburan
Hukum dan Kriminal
Lokal Sport
Manca Sport
SMS Pembaca
Malut Weekend
Malut Trend
Torang pe Rumah
Beranda Perempuan
Sastra & Budaya
Kinarya
Forum Kampus
De' Skul
Plesir
Pojok
Dihantam Ombak, 4 Penumpang Longboat Hilang
LABUHA–Keganasan laut kembali memakan korban. Kali ini terjadi di Halmahera Selatan dimana sebuah longboat yang mengangkut 17 penumpang yang berangkat dari Desa Kupal menuju Laiwui Obi Utara mengalami kecelakaan karena rusak diterjang gelombang.
 
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
KERUNTUHAN TEORI EVOLUSI PDF Print E-mail
Monday, 09 February 2009

(Catatan Bagi Para Pendukung Darwinisme Atau Wallaceisme)
Oleh : Abidin Mantoti,Mahasiswa FISIPOL UMMU, Ketua GEMA Pembebasan Kota Ternate

Konferensi internasional Alfred Russel Wallace dan the Wallacea digelar beberapa minggu yang lalu yakni pada tanggal 10 sampai 13 Desember 2008 bertempat di Imperial Arya Duta Hotel Makasar, Sulawesi Selatan. Tema kegiatan konferensi ini adalah Honoring the Past, Celebrating the Future (menghormati masa lalu, merayakan masa depan). Sebelumnya telah diadakan sejumlah kegiatan, berupa pameran fotografi Alfred Russel di Plasa Senayan (19 sampai 30 Nopember 2008) oleh Yayasan Wallacea Indonesia dan National Geographic Indonesia. Di Ternate sendiri di gelar pra simposium (2 sampai 3 Desember 2008) berdasarkan kerjasama LIPI dan pemerintah kota. Dari sinilah lahir Deklarasi Ternate yang memuat sekitar enam point penting.


       
Kegiatan tersebut kiranya membuat kita bangga terutama masyarakat manusia di Maluku Utara, karena teori evolusi dengan seleksi alamnya ternyata ditemukan pertama kali oleh Wallace berdasarkan pengamatan dan penelitiannya di Halmahera. Seperti disebutkan dalam beberapa media lokal dan lainnya, Letter from Ternate menjadi bukti otentik yang mengguncangkan orisinalitas teori Darwin tentang evolusi biologi. Dikatakan pula, bahwa teori evolusi pertama kali ditemukan oleh Wallace bukan Darwin seperti di klaim dalam bukunya, The Origin of Species(1859). Hal inilah yang mendasari peringatan 150 tahun Alfred Russel Wallace oleh The Wallacea Foudation, AIPI, LIPI dan beberapa lembaga lainnya sebagai bentuk kesadaran dan kejujuran.

Teori evolusi, Dasar berpijak Atheisme.
Yang menjadi persoalan bagi kita adalah benarkah teori evolusi itu dibangun diatas landasan yang ilmiah? Dimana bukti-bukti ilmiah teori tersebut yang dapat kita temukan dalam dunia moderen dengan sains dan teknologi sebagai penopang peradaban yang luar biasa ini? Apakah kita telah kehilangan akal sehingga kita pun bangga dengan sebuah teori yang telah kusam dan tidak membentuk kemanusiaan kita sebagai manusia? Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian besar manusia ingin memutus tali ikatan mereka dengan Tuhan dan berusaha sekuat tenaga untuk mencari pembenarannya dalam ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah teori evolusi yang dibangun diatas falsafah materialisme. Tidak tahukah kita bahwa teori ini tidak sesuai dengan temuan-temuan ilmiah? Siapapun yang menemukan teori evolusi bukanlah menjadi persoalan. Karena ia adalah bagian dari ekspresi secara fitrawi dalam diri manusia yang memiliki naluri untuk mengetahui sesuatu; dari mana alam semesta dan kehidupan ini berasal?
     
Baik Darwinisme atau Wallaceisme bukan menjadi persoalan utama bagi kita. Teori mereka tentang evolusi biologi bukan saja bertentangan dengan agama, namun juga tidak ilmiah dan bertentangan dengan temuan-temuan ilmu pengetahuan di jaman kita sekarang. Ini harus di akui dan ketahui oleh genarasi manusia sekarang sehingga mereka tidak terjerumus dalam kesesatan pemikiran dan kebodohan yang mentradisi dari dulu sampai sekarang. Selanjutnya untuk membuktikan bahwa teori evolusi telah kusam dan tidak ilmiah, simaklah secara mendalam pandangan ahli biologi Islam, Harun Yahya dalam tulisan ini.
     
Dasar berpijak paling penting dari atheisme saat mencapai puncaknya pada abad 19 adalah teori evolusi Darwin. Darwin mengemukakan, bahwa asal usul manusia dan seluruh mahluk hidup lainnya dapat dijelaskan melalui mekanisme alam yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja. Dengan demikian, ia memberikan penjelasan keliru tentang asal usul kehidupan yang tidak mampu di jelaskan oleh kaum atheis selama ratusan tahun. Faktanya, kalangan ahteis masa itu segera menganut teori Darwin. Diawali oleh Karl Marx dan Engel, para pemikir atheis abad ke 19 melukiskan teori ini sebagai bagian paling inti dalam filsafat mereka. Namun, yang menjadi sandaran utama atheisme itu sendiri runtuh oleh berbagai penemuan ilmiah abad ke 20.
     
Bukti yang dikemukakan oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti phaentologi, biokimia, anatomi dan genetika malah membantah pernyataan-pernyataan teori evolusi. Darwin mengatakan, bahwa seluruh makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama dan telah bekembang memisah antara satu dari yang lain melalui serangkaian perubahan kecil bertahap. Ia berharap ditemukannya fosil-fosil yang akan membuktikan pernyataannya itu. Tetapi penelitian fosil sepanjang abad 20 menampilkan gambaran yang sama sekali berbeda. Tak ditemukan satu spesies peralihan pun yang membuktikan kebenaran teori Darwin.
     
Misalnya, fenomena yang di sebut ledakan kambrium saja sudah cukup untuk melumatkan teori evolusi. Hampir semua kelompok utama di dunia hewan muncul secara bersamaan, seketika dan tiba-tiba di awal zaman kehidupan. Mahluk hidup dari kelas yang sangat berbeda seperti molusca, anthropoda, vertebrata dan echinodermata dengan ciri fisik mereka yang sangat berbeda muncul bersamaan secara serentak beserta organ dan sistem tubuh mereka yang sungguh teramat kompleks. Fakta yang ditemukan dalam contoh fosil ini meruntuhkan teori evolusi dan sebaliknya menjadi bukti penciptaan.
     
Saat mengemukakan teori tersebut, Darwin berpijak pada pemikiran, bahwa peternak hewan dapat memperoleh spesies anjing atau kuda yang berbeda. Ia menganggap perubahan yang tampak pada hewan tersebut juga dialami oleh seluruh mahluk hidup lainnya dan mengemukakan, bahwa seluruh mahluk hidup berasal dari satu nenek moyang yang sama melalui cara ini. Namun, pernyataan ini dikemukakan berdasarkan keterbatasan ilmu pengetahuan abad ke 19 dan berbagai penemuan di abad ke-20 telah meruntuhkannya.
     
Puluhan tahun pengamatan terhadap spesies hewan dan tumbuhan yang berbeda, mengungkapkan variasi pada makhluk hidup tidak mempunyai batas genetik spesies. Sebaliknya, percobaan genetis menunjukkan, bahwa mutasi yang dianggap pendukung Darwinisme sebagai mekanisme evolusi tidak pernah menambahkan informasi genetis baru pada makhluk hidup. Sebaliknya, malah senantiasa berakibat merusak. Percobaan mutasi yang tak terhitung jumlahnya pada lalat buah, hanya menghasilkan individu-individu cacat. Menurut teori Darwin, kehidupan di bumi harus berasal dari benda tak hidup. Jika demikian, bagaimana mahluk pertama muncul menjdi ada? Darwin tak mampu menjelaskan hal ini dan merasa puas dengan menuliskan, bahwa sel paling pertama dapat terbentuk dengan mudah di kolam kecil yang hangat. Usaha para ahli biologi evolusionis guna mempertahankan kelemahan darwinisme ini berakhir dengan kekecewaan. Seluruh pengamatan dan percobaan membuktikan kemustahilan satu sel hidup untuk terbentuk dari benda tak hidup.
     
Para ilmuan kemudian menemukan sesuatu yang lain diparuh kedua abad ke-20. Kehidupan, khususnya sel hidup beserta organ yang kompleks didalamnya ternyata dipenuhi desain yang teramat canggih. Mata kita yang tak mungkin tertandingi oleh kamera manapun, sayap burung yang mengilhami teknologi penerbangan, sistem kompleks dan saling bertautan dalam sel hidup, informasi luar biasa yang di kandung DNA, semua ini adalah contoh nyata keberadaan desain. Semua contoh ini benar-benar menggugurkan teori evolusi yang menganggap kehidupan sebagai hasil peristiwa kebetulan dan acak semata. Berbagai fakta ilmiah ini menjadikan darwinisme (atau sebut saja Wallaceisme) terpojokkan hingga akhir abad 20.
     
Para ilmuwan di banyak negara barat khususnya Amerika Serikat kini menolak darwinisme dan memilih teori Inteligent Desaign (perancang cerdas). Alasannya adalah, fakta-fakta ilmiah menunjukan, kehidupan muncul melaui perancangan dan bukan dengan sendirinya atau secara kebetulan. Singkatnya, sains sekali lagi memperkokoh fakta bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh makhluk hidup.
     
Manusia adalah mahluk yang paling misterius diatas alam semesta. Bahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an telah mengisaratkan terkait dengan benda-benda di alam semesta, kehidupan, manusia dan bagaimana seharusnya manusia sebagai subyek yang sadar berbuat dalam kehidupannya. Ilmu pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin merasa kecil dihadapan yang Maha Mutlak, bukan sebaliknya menjadi alasan kesombongan. Fakta-fakta temuan ilmiah diatas tentunya menjadi tamparan keras bagi manusia-manusia yang tertipu karena keterbatasan ilmu pengetahuan mereka. *****
 
< Prev   Next >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Copyright © 2005 - Your Company Name - design my rockettheme.com spacer.png, 0 kB