spacer.png, 0 kB
Home arrow Index Berita arrow Opini arrow KNPI; KELOMPOK MINORITAS DI TENGAH MAYORITAS PEMUDA
Main Menu
Home
Etalase
Moloku Kie Raha
Majangpolis
Ragam
Opini
Ekonomi
Internasional
Polmas
Hiburan
Hukum dan Kriminal
Lokal Sport
Manca Sport
SMS Pembaca
Malut Weekend
Malut Trend
Torang pe Rumah
Beranda Perempuan
Sastra & Budaya
Kinarya
Forum Kampus
De' Skul
Plesir
Pojok
TERNATE--Diantara Kecamatan yang ada di Kota Ternate, Kecamatan Pulau Batang Dua adalah yang paling terisolir.
 
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
KNPI; KELOMPOK MINORITAS DI TENGAH MAYORITAS PEMUDA PDF Print E-mail
Friday, 23 January 2009

Pokok Pikiran Untuk Kandidat, Menjelang Musda KNPI Provinsi
Oleh : Bahrudin Kadir, S.Sos.Penulis adalah warga Kelapa Pendek Kelurahan Mangga Dua Utara Ternate.

da beberapa adigium tentang pemuda, diantaranya pemuda adalah generasi penerus bangsa, pemuda adalah pewaris masa depan bangsa dan negara, pemuda adalah harapan orang tua serta pemuda adalah pelindung dan harapan bagi pemudi dikemudian hari, dan lain-lain. Sebagian dari adigium itu memiliki makna yang cukup mendalam, karena mengandung persepsi yang berbeda atau beban yang cukup berat bagi mereka yang berada pada kategori usia pemuda. Selain itu pemuda dimanivestasikan pada insan ”manusia muda,” juga dilingkupi oleh berbagai karakter jiwa dan perilaku yang juga berbeda karena tuntutan perkembangan usia baik secara individu maupun group dengan lingkungan yang diciptakan mereka sendiri, atau sering kita dengar ”mereka dengan dunia mereka sendiri.” Pemuda dalam pandangan penulis merupakan tingkatan usia diatas anak-anak, remaja atau satu tingkat dibawah orang-orang dewasa fisik (secara fisiologis) dan usia (lanjut usia atau separuh baya).
     

Pemuda merupakan bagian dari populasi penduduk memiliki makna, sebagaimana didefenisikan dalam (rancangan) Undang Undang Kepemudaan adalah menunjuk pada orang yang berusia 18 hingga 35 tahun, diatas kategori anak-anak 0 bulan hingga 18 tahun (sesuai pendefenisian Undang Undang Perlindungan Anak nomor 23 tahun 2002). Penetapan batas usia ini kemungkinan telah melalui kajian ilmiah-akademis yang mendalam serta disesuaikan dengan kondisi perkembangan demografi Indonesia hingga melahirkan batasan usia demikian.
     
Jumlah populasi penduduk usia kategori pemuda sesuai hasil Sensus Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006 mencapai 80,8 juta jiwa atau 36, 4 persen dari total penduduk, yang terdiri dari 40,1 juta pemuda laki-laki dan 40, 7 juta pemuda perempuan. Jika dipilah menurut tempat tinggal, nampak bahwa pemuda yang tinggal di pedesaan jumlahnya lebih banyak yakni 43,4 juta jiwa dibandingkan dengan yang menetap diperkotaan hanya mencapai 37, 4 juta jiwa.
     
Dengan jumlah yang demikian besar, potensi pemuda dalam pembangunan nasional dan daerah menjadi sangat strategis. Hal ini telah dibuktikan dengan beberapa periode sejarah yang lahir dengan menempatkan pemuda sebagai bagian yang tak terpisahkan, sehingga mengungkap peran pemuda tidak akan pernah selesai walaupun pada sisi tertentu sebagian pemuda juga memiliki andil pada peran antagonis, sehingga menimbulkan antipati masyarakat. Sedikit catatan pada beberapa fase sejarah yang menampakan eksistensi pemuda adalah peristiwa lahirnya Boedi Oetomo tahun 1908, Proklami Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Transisi Politik 1966 melahirkan eksponen ”66,” dan terakhir Gerakan Reformasi 1998 yang melahirkan Eksponen ”98” dan banyak lagi.
     
Awalnya bentuk dan metode pergerakan yang dimotori oleh pemuda masih bersifat kedaerahan mengandalkan primordialisme bersifat etnosentrisme, dengan masing-masing sebutan mulai dari Jong Sumatera, Jong Java hingga Jong Makassar dan Ambon, namun memberikan referensi bahwa gerakan pemuda dilakukan atas inisiatif dan persatuan daerah demi satu tujuan ”peradaban bangsa.” Metode berikutnya lebih maju dan berorientasi pada spirit nasionalisme menjadi basis dengan menentukan pilihan perubahan pada haluan perjuangan yang bersandarkan pada ”universalitas-nasionalisme,” garis perjuangan ini lebih maju dan modernis yakni membangun karakter bangsa (nation character building).
     
Disadari bahwa setiap fase (babak) sejarah bangsa ini, pemuda mengambil peran yang sangat srategis dalam mengaktualisasi gerakan dan menunjukan peran dalam mengawal berbagai perubahan fundamental yang berpengaruh pada pembentukan karakter bangsa. Peran-peran pemuda yang urgen ini menjadikan pemuda memiliki nilai tawar plus bagi terciptanya peradaban bangsa. Puncak kejayaan peran pemuda ini adalah mendeklarasikan ”Sumpah Pemuda” pada 28 Oktober 1928, yang juga menandai lahirnya state-nation bangsa Indonesia, sehingga bentuk penghargaan sampai kini kita peringati sebagai bagian dari momentum sejarah bangsa kita.
     
Pasca kemerdekaanpun, pemuda tetap eksis dan membangun akses dan kontrol terhadap sumber-sumber daya pembangunan yang tidak ternilai. Hal ini dilihat pada peran pemuda membangun persatuan dalam mengawal beberapa agenda negara sehingga lebih menambah kredibilitas pemuda lebih meningkat serta memiliki (bargaining posisition) yang kuat.

Kondisi Pemuda Kini
Namun, demikian masa keemasan pemuda, sebagaimana diuraikan sebelumnya menjadi absurd ketika dikomparasikan dengan peran pemuda pada konteks kekinian. Kini, eksistensi perjuangan pemuda bukan bersifat mobilisasi massa dan diplomasi untuk membendung agresor, menghadapi tank, atau kampanye anti kolonial, namun pergerakan pemuda harus di format untuk menekan, melindungi, atau memberikan penawaran alternatif terhadap dampak sosial dari perkembangan pembangunan dan global. Kompleksitas problem yang dihadapi oleh pemuda jauh lebih berat, karena dampak yang ditimbulkan adalah permasalahan laten dan internal pemuda itu sendiri, termasuk mereka yang terorganisir dalam KNPI. Konklusi permasalahannya adalah perang melawan diri sendiri atau internal pemuda itu sendiri. Oleh karena beberapa indikator permasalahan yang ditimbulkan oleh pemuda itu sendiri.
     
Ada yang lebih urgent yang harus diprioritaskan oleh pemuda, dimana intensitas permasalahan yang ditemukan jauh lebih banyak daripada format awal gerakan pemuda yang hanya semata-mata mencapai kemerdekaan dan membentuk karakter nasional bangsa, walaupun hal tersebut berat namun pergerakan pemuda menyatu pada satu tujuan (one goal/target) menghapus penjajahan (agresi). Bedanya dengan performance gerakan pemuda kini yang bersentuhan dengan dampak langsung dan tidak langsung pembangunan yang berbeda disetiap daerah, otomatis membutuhkan format gerakan dan pendekatan yang juga berbeda di setiap daerah, sehingga kita butuh format baru gerakan pemuda, termasuk Pemuda Maluku Utara yang termanivestasi pada KNPI Maluku Utara dan perangkatnya di kabupaten/kota juga semestinya merumuskan format baru gerakan.
     
Format baru gerakan sesuai amatan penulis setidaknya dilatari oleh beberapa pertimbangan dimana, terdapat permasalahan yang dihadapi oleh KNPI Provinsi, kabupaten/kota di Maluku Utara, yakni; pertama; merosotnya karakter kepemudaan. Hal ini terkait dengan pembentukan personality pemuda yang terhimpun dalam wadah KNPI harus dapat mencipatakan keseimbangan antara emosional, intelektual dan spiritual. Tiga pilar ini merupakan tiang utama ”soko guru” pemuda untuk membentuk karakter pemuda yang manusiawi bermoral dan bermartabat menuju kepada ”Manusia Muda Yang Paripurna,” jika ini tidak dimiliki maka format organisasi akan tidak memiliki kepekaan (sense) terhadap permasalahan pemuda sebagai bagian dari masyarakat. Realitasnya KNPI pada beberapa periode, hanya jalan ditempat, oleh karena KNPI tidak mampu memberikan solusi dan sentuhan yang berarti bagi setiap permasalahan pemuda misalnya, peredaran narkoba, pengangguran, minuman keras, kriminalitas dan seterusnya, sebaliknya kegiatan-kegiatan yang ada hanyalah diskusi dan kajian yang belum menyentuh substansi kebutuhan pemuda.
     
 Kedua; meredupnya kepemimpinan dan ketokohan. Hal ini terkait dengan style dan model kepemimpinan KNPI, sebagai motor penggerak organisasi secara universal belum visioner, padahal banyak orang-orang muda yang memenuhi kriteria untuk membawa organisasi ini lebih berdaya guna bagi masyarakat umumnya, khususnya pemuda di Maluku Utara. Masyarakat muda Maluku Utara telah disuguhi cerita nikmat, manis dan pahitnya, layak dan tidaknya siapa yang telah dan akan memimpin KNPI serta memberikan apa, bagi pengembangan pemuda Maluku Utara menjadi basic untuk memberikan penilaian sejauhmana peran dan akses KNPI Maluku Utara selama ini. Kemungkinan kesimpulan penilaian masyarakat akan sama dengan penulis” belum ada apa-apanya.”
      
Ketiga; degradasi kehidupan intelektual. Potensi pemuda termasuk intelektualitas yang dimiliki tidak dapat diragukan lagi, namun bukti intelektual KNPI belum nampak dengan menghadirkan karya-karya nyata yang brilian. Karya pemuda Maluku Utara terakhir yang monumental adalah partisipasi mereka pada perjuangan Provinsi Maluku Utara tahun 1999, padahal terlepas dari itu masih banyak hal yang membutuhkan sentuhan intelektualitas pemuda bukan hanya dalam politik praktis, tetapi juga pada kompleksitas permasalahan sosial kemasyarakatan lain, sehingga dapat melakukan berbagai pendekatan, termasuk pembacaan terhadap gejala-gejala sosial yang dapat dituangkan dalam fariatif gagasan, kegiatan dan penerbitan buku hasil kajian ilmiah sebagai pemecahan masalah (problem solving) misalnya, sebagai bukti kapasitas keintelektualanya.
      
Keempat; rendahnya peran sosial budaya pemuda. Dalam hal ini KNPI dapat dikatakan miskin peran. Akumulasi permasalahan ini menjadikan peran, fungsi dan kontrol KNPI yang notabenenya merupakan wadah pemuda menjadi elitis, konsumtif dan gagah-gagahan, padahal KNPI memiliki ruang, potensi dan kesempatan untuk melakukan kegiatan apa saja yang bermanfaat bagi pembangunan daerah secara universal, khususnya bagi pengembangan potensi pemuda itu sendiri serta mengembangkan KNPI dapat menjadi komunitas yang dapat dikategorikan midlle class (poros tengah) yang menopang berbagai bidang pembangunan dengan kapasitas intelektual yang dipunyai disatu sisi, disisi lain KNPI mampu menjadi protektor terhadap berbagai permasalahan yang menggerogoti pemuda saat ini, tentunya dengan memaksimalkan peran dan menjadi mediator, fasilitator dan problem solver yang baik bagi pemuda Maluku Utara.
     
Kinerja KNPI secara keseluruhan di Maluku Utara perlu direformulasi untuk menemukan idealitas dan kompetensi lembaga ke depan secara holistik dimiliki oleh mayoritas pemuda Maluku Utara, bukan minoritas pemuda yang bergaya elitis, intelek namun miskin fungsi dan nihil karya prestisius bagi seluruh pembangunan kepemudaan. Padahal seluruh pemuda sebenarnya membutuhkan akses yang lebih luas bagi sumber-sumber daya pembangunan kepemudaan di Maluku Utara.
     
Akhirnya penulis menghimbau kepada seluruh figur yang akan mencalonkan diri sebagai kandidat yang bertarung dalam musyawarah wilayah dan daerah agar melepaskan seluruh kepentingan- kepentingan sesaat yang dikuatirkan akan semakin menambah buruk citra pemuda umumnya, khususnya anggota-anggota KNPI Maluku Utara dan kabupaten/kota. Lepaskan seluruh atribut kepentingan, sehingga dapat menjadikan KNPI sebagai organisasi yang capabel dalam pengembangan pemuda. Yang terpenting adalah diperlukan rekonsiliasi pemuda Maluku Utara secara utuh, tanpa terkotak-kotak karena kepentingan tertentu.
     
Penulis mengucapkan selamat atas mereka-mereka pemuda yang telah terpilih untuk memimpin KNPI di masing-masing kabupaten/kota, selamat menjalankan tugas yang sangat tidak ringan demi pembangunan pemuda Maluku Utara, bravo KNPI, terima kasih, wassalam. *****
 
< Prev   Next >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
Copyright © 2005 - Your Company Name - design my rockettheme.com spacer.png, 0 kB